Apa beda freelancer dengan kerja serabutan?
Oh, jelas ada bedanya.
Dulu, sewaktu saya masih kecil, di keluarga saya punya seorang “pegawai lepas”, namanya mang Aep, yang sering dipanggil ke rumah untuk melakukan berbagai pekerjaan, dari mulai memotong rumput di halaman, benahin genteng yang bocor, benerin kompor dan listrik, ataupun pekerjaan lain sesuai dengan kebutuhan kala itu.
Nah, menurut saya mang Aep itu disebut kerja “serabutan”. Karena selain jenis pekerjaan yang dilakukannya beda-beda, beliau juga tidak hanya kerja di keluarga saya, tapi kadang beliau juga kerja di keluarga lain. Bahkan, seringkali keluarga saya sangat kerepotan waktu kita perlu mang Aep, tapi beliau sedang bekerja di keluarga lain. Di sisi lain, saya lihat beliau tidak punya visi yang jelas. Apa yang sedang beliau kerjakan, apa yang jadi tujuannya, apa yang sedang beliau bangun, apa yang sedang direncanakan untuk perbaikan hidupnya, saya tidak tahu dan tidak bisa melihatnya. Semuanya seolah mengalir seperti air. Kalau ada pekerjaan dikerjakan, kalau tidak ada ya diam saja.
Hingga akhirnya beberapa waktu yang lalu saya mendapat berita bahwa beliau sudah meninggal. Tentu saja, buat keluarga dan saya pribadi merasa sangat kehilangan beliau. Meski kerjanya secara serabutan, tapi beliau sudah banyak membantu keluarga kami.
Bagaimana dengan konsep “freelancer” ?
Begini, dalam konsep cashflow quadrant Robert T. Kiyosaki kita mengenal kuadran S atau “self employed”. Nah, menurut saya seorang disebut freelancer itu berarti dia berada dalam kuadran S itu. Di mana ciri orang self employed itu adalah bekerja secara profesional pada satu bidang kerja tertentu tetapi tidak terikat dalam aturan – aturan perusahaan secara umum. Misalkan, seorang desainer interior yang membuka jasa desain interior sendiri dari rumah atau kantornya sendiri, maka dia hanya akan mengerjakan pekerjaan desain interior saja. Tidak mungkin dia mengerjakan pekerjaan lain seperti konsultan pertanian atau makanan. Dia lebih fokus pada bidang yang digelutinya.
Selain itu, biasanya dia bersifat tidak mau terikat pada aturan kantor, misalkan kerja selama 8 jam sehari dari pagi sampai sore. Tetapi, bukan berarti seorang freelancer tidak bisa bekerja secara profesional. Dia bisa mengatur jadwal waktu dan ritme bekerjanya, bisa saja hanya 4 jam sehari di mulai sore atau malam hari ketika rumah sudah sepi. Dengan demikian, seorang freelancer sudah pasti harus mengerti diri dan kemampuannya sendiri. Sehingga, dia mempunyai kebebasan mengatur pekerjaannya sesuai kemampuannya sendiri, termasuk mengatur dan memilih kapan atau pada siapa dia mau bekerja. Maka, jangan heran jika suatu saat kamu mempekerjakan seorang freelancer, tetapi kemudian hasil atau sikapnya sedikit “ngeyel” padahal biasanya dia bekerja untuk orang lain sangat bagus. Hal itu, bisa jadi karena dia sedang tidak “mood” bekerja.
Ya, diterima atau tidak, seorang freelancer biasanya bekerja sesuai moodnya, terutama freelancer pemula.
Mood ini menjadi semakin sulit untuk dikontrol ketika para freelancer memilih bekerja dari rumahnya sendiri. Karena sebenarnya lebih berat bekerja di rumah dari pada bekerja di kantor. Bayangkan, di rumah itu ada lebih banyak tekana, seperti tekanan dari keluarga, hubungan dengan anak, istri, suami, atau saudara-saudara. Sedangkan, jika bekerja di kantor tekanan itu paling hanya datang dari bos atau teman kerja yang tidak terlalu intim seperti keluarga di rumah. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diingat ketika kita memilih untuk bekerja di rumah, bisa dilihat di sini : Tips bekerja di rumah.
Hal paling penting yang membedakan antara pekerja serabutan dengan freelancer adalah pada tujuan / visi hidupnya. Harus diingat, seorang freelancer itu bekerja dengan alasan utamanya adalah pengembangan diri dan kemampuan. Karena semakin mereka profesional dalam satu jenis pekerjaannya, semakin lama jam terbangnya, semakin kaya pengalamannya, maka semakin tinggi pula bayaran yang mereka akan dapatkan dari hasil kerjanya. Dengan kata lain, seorang freelancer bukan bekerja untuk menghasilkan profit sementara, melainkan profit jangka panjang berupa aset diri mereka sendiri.
Berbeda dengan pekerja serabutan, tidak jelas apa yang sedang mereka tingkatkan karena jenis pekerjaannya juga selalu berubah – ubah tergantung situasi. Yang dikejarnya adalah profit jangka pendek, semata untuk bisa melanjutkan hidup dan mengalir begitu saja tanpa tahu apa yang sedang menjadi tujuannya.
Nah, sampai sini apakah kamu sudah bisa membedakan termasuk freelancer atau pekerja serabutan sebenarnya kamu ini?
(bersambung….tentang sikap freelancer dalam menghasilkan profit dan bisnis)
Read More