— @dzikrirobbi

Selamat malam pada hari sabtu, yang kemudian malam ini disebut sebagai malam minggu. Dan pada malam yang inilah, temanku bertanya kiranya sedang dengan siapa aku di sini, di rumah ini, di atas dataran tinggi dari dataran tinggi Bandung.

Oh, aku sedang tidak dengan siapa-siapa manusia, tapi bukan berarti sendirian. Di sini aku bersama semut, kecoa, juga tikus (dan juga mungkin hantu).  Karena kak, alam semesta itu adalah kita. Jadi, bagaimana kamu bisa merasa hidupmu itu hanya sendirian?

Sedang ketika aku menolong orang lain adalah saat dimana aku merasa tidak sendiri. Maka, kiranya kak, hidupmu merasa sendiri mungkin dikarenakan dirimu tidak pernah menolong orang lain.

Dan, ini aku di sini, di depan layar komputerku, juga sedang berkata kepada semut, kecoa dan juga tikus yang sedang ada di dapur sambil berteriak :

“Hei semut,besok itu kamu mungkin akan mati. Bisa keinjak, kecebur bak mandi atau kesiram air hujan. Jadi jangan sombong ya!”

“Hei kecoa, aku tahu kamu itu kecoa jantan yg jelek, tapi bukan berarti ga ada kecoa betina yg mau sama kamu.”

“Dan hei tikus, ingat : di atasmu masih ada kucing. Di atas kucing masih ada anjing & di atas anjing masih ada serigala. Dan seterusnya sampai akhirnya kamu sadar bahwa jangan kamu merasa paling hebat dengan bisa mencuri dari dapurku tanpa ketahuan.”

 

Read More

(Ditulis sebagai balasan dari blognya Ucilmr dan dinukil dari buku Kontemplasi Pa-Beu-Lit yang belum terbit)

 

Ini aku berkata untuk tuanku, Mochamad Ramdhani, yaitu dia orangnya yang meninggalkanku sendiri di rumah pada waktunya siang hari, dikarenakan dia sibuk main dengan si Ganjar, temannya yang tidak mau diajaknya menjadi kumpulan homo, karena tuanku itu sendiri juga masih normal.

Tapi juga sebenarnya aku tidak benar – benar merasakan sendiri. Tuan, aku bersama meja, dan lemari yang terkadang kami dikunjungi semut, kecoa, juga tikus.

Dan bahwa di tubuhku juga terdapat virus. Yaitu virus yang “hidup” dan merusak jaringanku. Dia seharusnya kamu matikan dengan caranya kamu update antivirusnya. Tentu akan kamu cari yang gratis, jika tidak, mungkin akan kamu membajaknya.

Seperti Operation System yang kamu pasangkan di sini, di komputermu, adalah juga palsu. Juga musik yang kamu dengarkan dari suara yang aku keluarkan ketika kamu memainkannya melalui software penyetel musik adalah juga palsu.

Dan jika aku diberikan kemaluan, maka aku akan malu atas semua yang palsu di tubuhku ini. Sayangnya aku tidak punya. Semua lubang dalam tubuhku ini, tentu bukan “kelamin”, yang kiranya itu adalah sumber dari segala sumber kemaluan.

 

Tetapi tuan, kamu sering menganggap diriku sendiri ketika siang hari, karena mungkin kamu lupa bahwa dunia ini ramai sekali. Bukan kamu, tuanku, pusat dunia itu. Tapi kita semua. Kita alam semesta itu.

Dan tuan, aku juga ingin katakan kepadamu, bahwa aku senang ketika kamu menggelitikku dengan mengetikkan kata – kata pada ingatanku. Oh, semoga ingatan itu masih ada ketika nanti tahunnya sudah tahun 2675 Setelah Masehi. Seperti kata si Dzikri Robbi, mungkin pada tahunnya nanti itu aku sudah menjadi rongsok. Atau ketika tuan sudah punya komputer yang bisa dijinjing itu, mungkin aku juga sudah di gudang bersama lebih banyak debu, semut, kecoa dan juga tikus. Tak apa, itu pasti lebih ramai dan menyenangkan.

Aku : komputermu.

 

3 Mei 2012

 

Read More

Berikut ini adalah cuplikan dari dialektika ala Sokrates untuk mengungkapkan gagasannya mengenai sesuatu yang hebat dan menyenangkan, yang seringkali keliru untuk kita pahami sehingga seolah terjadi disorientasi tujuan dalam hidup kita.

 

Suatu hari, Sokrates bertemu dengan Meno, sahabat lamanya, di kios ikan pasar Athena. Begitu senangnya, sehingga mereka lama berpelukan. Sokrates kemudian mengajak Meno untuk rehat di sebuah emperan rumah dekat pasar sambil sekaligus berteduh.

“Apa yang sedang kau lakukan saat ini, wahai Meno saudaraku?”

“Aku sedang menjajagi untuk membuka kios usaha di Megara, Sokrates. Makanya aku berkunjung ke Athena untuk melihat bagaimana mereka mengelola kiosnya dan barang-barang apa saja yang dapat ku ambil dari sini.”

“Oh begitu. Bukankah engkau sudah punya ladang gandum yang begitu luas dari ayahmu? Apa itu tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhanmu?”

“Tidak Sokrates. Itu belum cukup bagiku. Aku ingin lebih dari ayahku. Ingin seperti Kranos, saudagar terkaya di Megara. Dia hidup sangat senang dengan semua kemewahan yang ia punya.”

“Hidup sangat senang? Bisa kau berikan keterangan yang lebih jelas lagi wahai Meno?”

“Kau memang tidak tahu apa artinya hidup mewah Sokrates. Kranos itu punya segala-galanya. Budak yang ia punya lebih dari 40 orang. Perempuan pun suka padanya. Tidak kurang dari belasan perempuan hilir mudik datang ke rumah Kranos tiap harinya. Merayu untuk menjadi istrinya. Rumah itu amat megah. Berdiri kokoh dengan tiang granit dan lantai batu pualam. Tidak cukup sampai di situ, ia, Kranos, juga memiliki 4 kereta dan 10 ekor kuda. Itu hebat Sokrates. Itu baru namanya hidup.”

“Terus, apa hubungannya antara hidup sangat senang dan hebat? Apakah kalau kita hidup dengan hebat maka akan hidup dengan sangat senang?”

“Itu betul Sokrates. Kita akan hidup sangat senang kalau kita hidup dengan hebat. Makanya aku datang jauh-jauh ke Athena agar bisa belajar dan mendapatkan pengetahuan yang lebih daripada Kranos. Aku akan menjadi lebih hebat dari Kranos tentunya.”

Di tengah percakapan ini, seorang anak kecil bersama ibunya lewat di depan mereka. Anak itu sangat senang sekali karena ibunya membelikan ia permen gula. Ia jalan berjingkat-jingkat kecil dengan satu tangan menggenggam permen gula dan tangan lainnya memegang tangan si ibu.

“Kau lihat anak kecil itu wahai Meno?”

“Ya Sokrates. Memangnya ada apa?”

“Tadi anak kecil itu begitu senangnya. Tidakkah itu juga hebat Meno?”

“Hebat apanya Sokrates? Menurutku, itu wajar saja. Setiap anak yang diberi permen gula tentu akan merasa sangat senang.”

“Jadi, kau menganggap kalau hebat itu tidak identik dengan rasa senang?”

“Maksudmu apa Sokrates?”

“Tadi kau mengatakan kita akan hidup sangat senang kalau kita hidup dengan hebat. Bukankah itu sama dengan mengatakan bahwa rasa senang itu identik dengan hebat? Artinya, kalau kita hidup dengan hebat, itu akan membuat kita hidup senang. Bukankah begitu wahai Meno sahabatku?”

Meno menjadi bingung sendiri dengan pertanyaan dan kata-kata Sokrates. Ia mulai kehilangan kata-kata.

“Iya, mungkin, Sokrates.”

“Kenapa mungkin? Kalau rasa senang itu identik dengan hebat, maka anak kecil yang tadi mendapat permen gula itu pun bisa kita bilang hebat Meno. Hanya dengan sebuah permen gula yang kecil, ia bisa merasa sangat senang.”

Meno akhirnya tak mampu berkata-kata. Ia merasa terpojok dengan ucapan Sokrates. Hanya dengan contoh kecil saja, Sokrates telah membuat lamunannya yang ia bangun selama bertahun-tahun menjadi sia-sia.

“Aku tidak melarangmu menjadi hebat atau melebihi kehebatannya Kranos, wahai Meno. Aku ingin kamu menentukan tujuan hidupmu menjadi hebat bukan semata-mata karena melihat orang lain.”

Setelah itu, Sokrates menepuk pundak Meno, lalu mengajaknya pergi bertandang ke rumahnya untuk sekadar bersantap ala kadarnya. Meno mencari temannya terlebih dahuludan mereka bertiga menuju rumah Sokrates.

Read More

Alkisah di suatu siang, di sebuah padang pasir, berjalan sepasang ayah dan anak bersama seekor keledainya yang kecil. Sang anak kira-kira berumur 15 tahun duduk di atas keledai, sementara sang ayah berjalan menuntun keledainya. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan sekelompok orang, sekelompok ayah, yang kemudian berkata kepada sang ayah : “Kenapa tidak engkau saja yang duduk di atas keledai, biar anakmu saja yang menuntun keledainya agar dia terbiasa untuk menghormatimu”.

Kemudian, sang ayah pun duduk di atas keledai, sementara si anak menjadi menuntun keledainya sambil berjalan di atas pasir yang panas. Tetapi, berselang tidak lama setelah itu, mereka bertemu dengan sekelompok orang yang lain dari perkumpulan perlindungan anak, dan kemudian marah – marah kepada si ayah : “Sungguh kamu keterlaluan. Sementara kamu, ayahnya duduk enak-enakan di atas keledai, anakmu sendiri di suruh jalan kaki sambil menuntun keledai di siang yang panas seperti ini”.

Akhirnya karena merasa serba salah, mereka berdua, si ayah dan anaknya, duduk menaiki keledainya dan melanjutkan perjalanan. Tetapi, sekali lagi, mereka bertemu dengan sekelompok orang yang lain, yang ternyata adalah dari kelompok pecinta keledai, dan kemudian protes atas apa yang telah dilakukan si ayah dan anak kepada keledainya : “Kalian itu bagaimana sih, masa kalian berdua menaiki seekor keledai yang kecil seperti ini. Padahal total berat badan kalian ini, ayah dan anak, adalah dua kali berat badan keledai. Sungguh keterlaluan sekali!”

Si anak yang kemudian kebingungan melihat apa yang terjadi ini, bertanya kepada ayahnya : “Lalu, apa yang harus kita lakukan ayah? Begini salah, begitu salah. Aku jadi bingung”

“Begitulah anakku. Banyak orang terlalu memberikan pendapat atas apa yang kita lakukan sesuai dengan pandangannya masing-masing. Sementara kita yang kadang juga terlalu mendengarkan dan mengikuti pendapat orang lain akhirnya menjadi bingung sendiri atas apa yang seharusnya kita lakukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh hati kita” jawab si ayah dengan bijak “Untuk itulah anakku, dengarkan ini baik-baik oleh kedua telingamu yang baik : terkadang kita harus menutup mata dan telinga untuk bisa menjadi diri kita sendiri. Semoga kamu memahaminya”

“Baik ayah, insyaAllah aku paham” jawab si anak.

Read More

Apa beda freelancer dengan kerja serabutan?

Oh, jelas ada bedanya.

Dulu, sewaktu saya masih kecil, di keluarga saya punya seorang “pegawai lepas”, namanya mang Aep, yang sering dipanggil ke rumah untuk melakukan berbagai pekerjaan, dari mulai memotong rumput di halaman, benahin genteng yang bocor, benerin kompor dan listrik, ataupun pekerjaan lain sesuai dengan kebutuhan kala itu.

Nah, menurut saya mang Aep itu disebut kerja “serabutan”. Karena selain jenis pekerjaan yang dilakukannya beda-beda, beliau juga tidak hanya kerja di keluarga saya, tapi kadang beliau juga kerja di keluarga lain. Bahkan, seringkali keluarga saya sangat kerepotan waktu kita perlu mang Aep, tapi beliau sedang bekerja di keluarga lain. Di sisi lain, saya lihat beliau tidak punya visi yang jelas. Apa yang sedang beliau kerjakan, apa yang jadi tujuannya, apa yang sedang beliau bangun, apa yang sedang direncanakan untuk perbaikan hidupnya, saya tidak tahu dan tidak bisa melihatnya. Semuanya seolah mengalir seperti air. Kalau ada pekerjaan dikerjakan, kalau tidak ada ya diam saja.

Hingga akhirnya beberapa waktu yang lalu saya mendapat berita bahwa beliau sudah meninggal. Tentu saja, buat keluarga dan saya pribadi merasa sangat kehilangan beliau. Meski kerjanya secara serabutan, tapi beliau sudah banyak membantu keluarga kami.

Bagaimana dengan konsep “freelancer” ?

Begini, dalam konsep cashflow quadrant Robert T. Kiyosaki kita mengenal kuadran S atau “self employed”. Nah, menurut saya seorang disebut freelancer itu berarti dia berada dalam kuadran S itu. Di mana ciri orang self employed itu adalah bekerja secara profesional pada satu bidang kerja tertentu tetapi tidak terikat dalam aturan – aturan perusahaan secara umum. Misalkan, seorang desainer interior yang membuka jasa desain interior sendiri dari rumah atau kantornya sendiri, maka dia hanya akan mengerjakan pekerjaan desain interior saja. Tidak mungkin dia mengerjakan pekerjaan lain seperti konsultan pertanian atau makanan. Dia lebih fokus pada bidang yang digelutinya.

Selain itu, biasanya dia bersifat tidak mau terikat pada aturan kantor, misalkan kerja selama 8 jam sehari dari pagi sampai sore. Tetapi, bukan berarti seorang freelancer tidak bisa bekerja secara profesional. Dia bisa mengatur jadwal waktu dan ritme bekerjanya, bisa saja hanya 4 jam sehari di mulai sore atau malam hari ketika rumah sudah sepi. Dengan demikian, seorang freelancer sudah pasti harus mengerti diri dan kemampuannya sendiri. Sehingga, dia mempunyai kebebasan mengatur pekerjaannya sesuai kemampuannya sendiri, termasuk mengatur dan memilih kapan atau pada siapa dia mau bekerja. Maka, jangan heran jika suatu saat kamu mempekerjakan seorang freelancer, tetapi kemudian hasil atau sikapnya sedikit “ngeyel” padahal biasanya dia bekerja untuk orang lain sangat bagus. Hal itu, bisa jadi karena dia sedang tidak “mood” bekerja.

Ya, diterima atau tidak, seorang freelancer biasanya bekerja sesuai moodnya, terutama freelancer pemula.

Mood ini menjadi semakin sulit untuk dikontrol ketika para freelancer memilih bekerja dari rumahnya sendiri. Karena sebenarnya lebih berat bekerja di rumah dari pada bekerja di kantor. Bayangkan, di rumah itu ada lebih banyak tekana, seperti tekanan dari keluarga, hubungan dengan anak, istri, suami, atau saudara-saudara. Sedangkan, jika bekerja di kantor tekanan itu paling hanya datang dari bos atau teman kerja yang tidak terlalu intim seperti keluarga di rumah. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diingat ketika kita memilih untuk bekerja di rumah, bisa dilihat di sini : Tips bekerja di rumah.

Hal paling penting yang membedakan antara pekerja serabutan dengan freelancer adalah pada tujuan / visi hidupnya. Harus diingat, seorang freelancer itu bekerja dengan alasan utamanya adalah pengembangan diri dan kemampuan. Karena semakin mereka profesional dalam satu jenis pekerjaannya, semakin lama jam terbangnya, semakin kaya pengalamannya, maka semakin tinggi pula bayaran yang mereka akan dapatkan dari hasil kerjanya. Dengan kata lain, seorang freelancer bukan bekerja untuk menghasilkan profit sementara, melainkan profit jangka panjang berupa aset diri mereka sendiri.

Berbeda dengan pekerja serabutan, tidak jelas apa yang sedang mereka tingkatkan karena jenis pekerjaannya juga selalu berubah – ubah tergantung situasi. Yang dikejarnya adalah profit jangka pendek, semata untuk bisa melanjutkan hidup dan mengalir begitu saja tanpa tahu apa yang sedang menjadi tujuannya.

Nah, sampai sini apakah kamu sudah bisa membedakan termasuk freelancer atau pekerja serabutan sebenarnya kamu ini?

(bersambung….tentang sikap freelancer dalam menghasilkan profit dan bisnis)

Read More